Latar Belakang, Hakikat, dan Tujuan Pembelajaran Orang Dewasa

A. Pendahuluan

1. Deskripsi Singkat

Dalam Bab I ini meliputi: latar belakang pembelajaran orang dewasa, hakikat pembelajaran orang dewasa, dan tujuan pembelajaran orang dewasa. Pada latar belakang pembelajaran orang dewasa dijabarkan menjadi: landasan hukum, tinjauan historis dan sosio-psikologis pembelajaran orang dewasa.

2. Kemampuan Akhir Yang Diharapkan 

Setelah mempelajari bab ini dijabarkan peserta dapat:

    a.  Menjelaskan landasan hukum, tinjauan historis dan sosio-psikologis pembelajaran orang dewasa;

    b.  menyimpulkan pengertian pembelajaran orang dewasa;

    c.  mengidentifikasi tujuan pembelajaran dewasa.

B. Penyajian

1. Latar Belakang Pembelajaran Orang Dewasa

a. Landasan Hukum Pembelajaran Orang Dewasa

Berdasarkan Undang-undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan pada pasal 13 ayat 1 dijelaskan bahwa mahasiswa sebagai anggota sivitas akademika diposisikan sebagai insan dewasa yang memiliki kesadaran sendiri dalam mengembangkan potensi diri di perguruan tinggi untuk menjadi intelektual, ilmuwan, praktisi, dan/atau profesional.

Mahasiswa diposisikan sebagai insan dewasa secara hukum dalam arti mahasiswa sebagai subjek hukum, yakni mampu sebagai pengemban hak dan kewajiban hukum (Syofiah, 2016:8-10). Hak dan kewajiban yang melekat pada mahasiswa, oleh hukum kemudian diwujudkan dalam bentuk kewenangan hukum. Terkait dengan hak untuk menerima pelayanan sebagai orang dewasa yang belajar di perguruan tinggi, sedangkan terkait dengan kewajiban bertindak sebagai orang dewasa yang menjalankan tugas belajar di perguruan tinggi. Kewenangan untuk menerima hak dan kewajiban yang dalam bertindak disertai dengan kesadaran diri. Kesadaran diri dalam arti kesadaran internal terhadap pengalaman sadar diri (Pawlik dalam Hastjarjo, 2005: 80-81), karena dianggap sudah cakap, sudah tidak di bawah kekuasaan orangtua dalam mengembangkan potensi diri di perguruan tinggi menjadi intelektual, ilmuwan, praktisi, dan/atau profesional.

b. Tinjauan Historis Pembelajaran Orang Dewasa

Dalam teori filsafat pendidikan, pembelajaran orang dewasa disebut andragogi (andragogy). Istilah andragogi memiliki sejarah yang panjang dalam perkembangannya (Chan, 2010: 27-28). Sejak tahun 1833 Alexander Kapp pendidik dari Jerman yang bekerja sebagai guru sekolah grammar menggunakan istilah andragogi sebagai gambaran ide Plato bahwa orang dewasa terus belajar di masa dewasa. Kapp tidak mengembangkan teori andragogi, tapi membenarkan andragogi sebagai kebutuhan praktis dari pendidikan orang dewasa. Selang beberapa lama, istilah andragogi hilang dalam peredaran zaman. Andragogi mulai diorganisasikan secara sistematis sekitar tahun 1920 (Pannen dan Sadjati, 2005: 4), tepatnya pada tahun 1921 istilah tersebut dimunculkan kembali oleh Eugene Rosenstock seorang pengajar di akademi buruh Frankfurt (Hidayat, 2015). Pada tahun 1926 Lindeman dari Amerika Serikat pergi ke Jerman untuk mengenal pembelajaran orang dewasa bagi para pekerja. Lindeman adalah orang pertama membawa konsep andragogi ke Amerika dan diterbitkan ke dalam Bahasa Inggris (Henschke, 2010: 1-2).

Pada masa selanjutnya, pembelajaran orang dewasa dikembangkan oleh Knowles (Thompson and Deis, 2004: 107-108; Keese, 2010). Nama lengkap Malcolm Knowles (1913-1997). Ia adalah seorang pendidik Amerika yang terkenal dalam mengembangkan teori dan praktik andragogi. Ia menggunakan istilah andragogi sebagai sinonim untuk pembelajaran orang dewasa. Menurut Knowles, andragogi adalah seni dan ilmu pembelajaran orang dewasa, sehingga andragogi mengacu pada bentuk pembelajaran orang dewasa (Kearsley dalam Pappas,2013). Menurut Keese (2010), Knowles berperanan sebagai guru, dosen, penulis, dan pemimpin dalam bidang pembelajaran orang dewasa. Ia sangat tertarik pada teori dari Carl Rogers tentang fasilitator pembelajaran. Knowles adalah seorang inovator, ia adalah tokoh kunci dalam pertumbuhan dan praktik pembelajaran orang dewasa. Andragogi telah menjadi populer di kalangan pendidik dan peneliti di banyak negara. Menurut Savicevic (dalam Chan, 2010: 28), andragogi diadopsi oleh setidaknya sepuluh negara Eropa seperti Jerman, Inggris, Polandia, Prancis, Finlandia, Belanda, Cekoslowakia, Rusia, Hongaria, dan Yugoslavia.Ia telah banyak berkontribusi dalam bentuk karya besar untuk bidang pembelajaran orang dewasa (Bates,2009), yang telah diadopsi oleh para pendidik dari berbagai disiplin ilmu (Bolton dalam Chan, 2010: 28-32). Knowles menerapkan andragogi untuk pengembangan sumber daya manusia (Henschke, 2010: 1-5). Selama hidupnya ia telah menerbitkan lebih dari 230 artikel dan 18 buku. Sebagai penghargaan terhadap jasanya ia disebut sebagai “Bapak Andragogi” (Bates, 2009). Knowles mempopulerkan teori andragogi pada tahun 1970 melalui bukunya yang berjudul The Modern Practice of Adult Education; Andragogy versus Pedagogy. Knowles menjelaskan bahwa dalam buku tersebut bahwa istilah andragogi diartikan sebagai suatu usaha untuk menciptakan teori untuk membedakan kegiatan belajar di masa anak dengan di usia dewasa. Ia menjelaskan perbedaan andragogi sebagai “seni dan ilmu untuk membantu orang dewasa belajar” dengan pedagogi sebagai “seni dan ilmu untuk membantu anak-anak belajar”.

Menurut Knowles, andragogi pada dasarnya adalah “model asumsi” tentang karakteristik peserta didik (orang dewasa) yang berbeda dari asumsi pedagogi tradisional tentang peserta didik (anak). Orang dewasa adalah pembelajar yang otonom, bebas, dan berorientasi pada pertumbuhan. Setelah sepuluh tahun kemudian, Knowles menerima laporan dari guru sekolah dasar dan guru sekolah menengah bahwa murid-murid mereka memperoleh hasil belajar yang lebih baik setelah menerapkan asumsi model pembelajaran orang dewasa. Oleh karena itu, pada tahun 1980 Knowles Meng-up to date dan merevisi dari bukunya menjadi: The Modern Practice of Adult Education From Pedagogy to Andragogy (Bates, 2009).

Dalam praktik pembelajaran di perguruan tinggi, Knowles (dalam Bates, 2009) mengembangkan kontrak belajar, sehingga mahasiswa dapat belajar secara mandiri, mengarahkan diri, dan bertanggung jawab atas belajarnya sendiri. Kontrak belajar sekarang disebut sebagai Kontrak Perkuliahan yang digunakan pada setiap awal semester atau awal perkuliahan. Selain itu, ide Knowles tentang andragogi juga dapat diterapkan untuk pengembangan sumber daya manusia dalam, abad 21 (Henschke, 2010: 5).

c. Tinjauan Sosio-psikologis Pembelajaran Orang Dewasa

Jika dilihat dari faktor usia, dikatakan orang dewasa adalah seseorang yang telah berumur 16-18 tahun (Pannen dan Sadjati, 2005: 5-7). Beberapa peneliti menggolongkan orang dewasa ke dalam beberapa kategori yang lebih rinci sebagai berikut:

1) Atchley mengklasifikasikan masa orang dewasa menjadi tiga kelompok yakni: usia dewasa muda (20-36 tahun), usia dewasa menengah (36-40 tahun), dan usia tua (lebih dari 60 tahun).

2) Lidz membagi masa orang dewasa menjadi empat kelompok yakni: usia dewasa muda (16-30 tahun),usia dewasa menengah (30-40 tahun), usia dewasa menengah yang penuh dengan krisis (40-56 tahun), dan usia dewasa tua (lebih dari 56 tahun).

3) Gordon mengklasifikasikan masa orang dewasa menjadi empat kelompok yakni: usia dewasa muda (22-30 tahun), awal dewasa (30-40 tahun), dewasa (46-65 tahun), dan masa pensiun (lebih dari 66 tahun).

Dikatakan dewasa secara biologis, apabila seseorang telah mampu melakukan reproduksi. Namun orang dewasa tidak hanya dilihat dari segi biologis semata, tetapi juga dilihat dari segi sosial dan psikologis. Secara sosial, seseorang disebut dewasa apabila ia telah melakukan peran-peran sosial biasanya dibebankan kepada orang dewasa. Secara psikologis, seseorang dikatakan dewasa apabila mampu mengarahkan diri sendiri, tidak terikat pada orang lain, dapat bertanggung jawab terhadap segala tindakannya, mandiri, dan dapat mengambil keputusan sendiri.

Perlunya penerapan prinsip pembelajaran orang dewasa dikarenakan secara sosio psikologis upaya membelajarkan anak. Membelajarkan anak (pedagogi) lebih banyak merupakan upaya mentransmisikan sejumlah pengalaman dan keterampilan dalam rangka mempersiapkan anak untuk menghadapi kehidupan di masa datang. Jika pembelajaran dimaknai sebagai transmisi pengetahuan, maka berdasarkan pandangan ini memposisikan manusia sebagai pembelajar pasif dan akan terjadi stagnasi keilmuan. Dalam kondisi seperti ini maka pengetahuan yang diperoleh seseorang dari hasil proses transmisi ketika ia berumur 21 tahun akan menjadi tidak berkembang dan usang (old date) ketika berumur 40 tahun. Realitas yang mengedepankan pendidikan sebagai suatu proses transmisi pengetahuan akhirnya terpatahkan dengan fakta empiris bahwa manusia adalah makhluk pembelajar yang mampu meng-update pengetahuannya secara mandiri. Oleh karenanya pendidikan sekarang ini tidak lagi dirumuskan sebagai upaya mentransmisikan pengetahuan,   tetapi dirumuskan sebagai proses penemuan sepanjang hayat (long life invention) terhadap apa yang dibutuhkan untuk diketahui  (Mutadi, 2016). Apa yang ditransmisikan didasarkan pada pertimbangan mahasiswa sendiri sebagai orang dewasa, apakah hal tersebut akan bermanfaat bagi mahasiswa di masa datang. Pembelajaran orang dewasa (andragogi) lebih menekankan pada membimbing dan membantu orang dewasa untuk menemukan pengetahuan, keterampilan, dan sikap dalam rangka memecahkan masalah-masalah kehidupan yang dihadapinya. Ketepatan pendekatan yang digunakan dalam penyelenggaraan suatu kegiatan pembelajaran tentu akan mempengaruhi hasil belajar mahasiswa (Budiningsih, 2005).

Materi pembelajaran orang dewasa menjadi penting dipelajari oleh dosen perguruan tinggi dikarenakan mahasiswa yang mereka ajar termasuk kategori orang dewasa (Pannen dan Sadjati, 2005: 2). Dengan memahami karakteristik belajar, gaya belajar dan harapan mahasiswa dalam mengikuti pembelajaran, maka dosen dapat mengantisipasi hal-hal yang mungkin timbul pada saat menghadapi mahasiswa dalam pembelajaran. Di samping itu, dengan memahami gaya dan cara belajar orang dewasa, diharapkan akan diperoleh hasil belajar mahasiswa yang optimum sebagaimana yang ditetapkan dalam tujuan pembelajaran.

Meskipun andragogi telah mempunyai peran dalam pembelajaran orang dewasa, ada kritik terhadap pendekatan ini. Isi kritik itu adalah bahwa andragogi tidak mempertimbangkan perspektif budaya di lingkungan belajar orang dewasa (Pratt, Wlodkowski dan Ginsberg dalam Chan, 2010: 32).

2. Hakikat Pembelajaran Orang Dewasa

Secara etimologis, andragogi (andragogy) berasal dari bahasa Yunani kuno “aner”, dengan akar andr- yang berarti orang (bukan anak) dan agogos yang berarti membimbing atau membina (Pannen dan Sadjati, 2005:4), maka andragogi secara harfiah dapat diartikan sebagai ilmu dan seni mengajar orang dewasa. Berbeda dengan istilah pedagogi (pedagogy) berasal dari kata Yunani “ paid” ( berarti anak) dan “ agogus” (berarti “memimpin “). Pedagogi berarti “seni dan ilmu mengajar anak-anak”.

John D. Ingalls (dalam Sujarwo, 2007: 3) memberi batasan pengertian andragogi sebagai: proses pendidikan membantu orang dewasa menemukan dan menggunakan penemuan-penemuan dari bidang-bidang pengetahuan yang berhubungan dalam latar sosial dan situasi pendidikan untuk mendorong pertumbuhan dan kesehatan individu, organisasi, dan masyarakat. Menurut Knowles (dalam Sujarwo, 2007:3): “Andragogy is therefore, the art and science of helping adults learn “. Andragogi adalah suatu ilmu dan seni dalam membantu orang dewasa dalam belajar. Dilihat dari segi epistemologi, andragogi berasal dari bahasa Yunani dengan akar kata:”Aner” yang artinya orang untuk membedakannya dengan “paid” yang artinya anak. Knowles dalam bukunya “The Modern Practice of Adult Education”, mengatakan bahwa semula ia mendefinisikan andragogi sebagai seni dan ilmu membantu orang dewasa belajar. Kemudian setelah melihat hasil eksperimen banyak pendidik yang menerapkan konsep andragogi pada pendidikan anak-anak dan menemukan bahwa dalam situasi-situasi tertentu memberikan hasil yang lebih baik, Knowles melihat bahwa andragogi sebenarnya merupakan model asumsi yang lain mengenai pembelajaran yang dapat digunakan di samping model asumsi pedagogi. Ia juga mengatakan model-model itu berguna apabila tidak dilihat sebagai dikotomi, tetapi sebagai dua ujung dari suatu spektrum, dimana suatu asumsi yang realistik pada situasi yang berada di antara ujung tersebut (Sujarwo, 2007: 3).

Menurut Unesco (Pannen dan Sadjati, 2005: 5), pembelajaran orang dewasa adalah proses pembelajaran yang diorganisasikan isinya, tingkatannya, dan metodenya secara formal maupun non formal untuk memenuhi kebutuhan yang melengkapi pembelajaran di sekolah dalam rangka meningkatkan kemampuan, memperkaya pengetahuan, mendapatkan keterampilan dan membawa perubahan sikap seseorang sebagai tenaga pembangunan yang mampu berpartisipasi aktif dalam pembangunan ekonomi, sosial, dan budaya.

Mengacu pada pendapat Unesco di atas, Lunandi (1987) menegaskan bahwa pembelajaran orang dewasa adalah  (a) pembelajaran orang yang dianggap dewasa oleh masyarakat (bukan remaja dan juga bukan anak-anak); (b) proses pembelajaran orang dewasa haruslah membuat pesertanya: mengembangkan kemampuannya, memperkaya pengetahuannya, meningkatkan kualifikasi teknis dan profesionalnya; dan (c) proses pembelajaran orang dewasa haruslah mengakibatkan perubahan sikap dan perilaku yang bersifat (dapat dikategorikan) sebagai: perkembangan pribadi, dan peningkatan partisipasi sosial dari individu yang bersangkutan.

Berdasarkan uraian diatas, maka disimpulkan pengertian pembelajaran orang dewasa adalah suatu model asumsi tentang proses pembelajaran yang diorganisasikan isi, tingkatan, dan metodenya secara formal maupun non formal guna memenuhi kebutuhan melengkapi pembelajaran di sekolah untuk meningkatkan kemampuan, pengetahuan, keterampilan dan mengembangkan sikap positif agar mampu berpartisipasi aktif dalam pembangunan ekonomi, sosial, dan budaya yang terus berkembang.

3. Tujuan Pembelajaran Orang Dewasa

Menurut Pannen dan Sadjati (2005: 8-9) tujuan utama pembelajaran bagi mahasiswa sebagai orang dewasa adalah untuk membantu setiap mahasiswa untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap agar mampu menjadi anggota masyarakat yang berperan aktif dalam proses pembangunan. Hal ini sejalan dengan Undang-undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, bahwa tujuan utama pembelajaran bagi mahasiswa sebagai insan dewasa adalah membantu mahasiswa mengembangkan potensinya untuk menjadi intelektual, ilmuwan, praktisi, dan/atau profesional yang berbudaya.

Menurut Jannah (2013: 5) perguruan tinggi merupakan institusi yang penting dalam pembelajaran bagi mahasiswa sebagai orang dewasa. Perguruan tinggi sebagai lembaga pelayanan jasa pendidikan harus selalu berorientasi pada perkembangan zaman dalam rangka memenuhi kebutuhan pelanggan. Dilihat dari sistem penjenjangan pendidikan, pendidikan tinggi merupakan pintu terakhir bagi mahasiswa sebelum memasuki dunia kerja, karena pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan mahasiswa merupakan kontribusi penting bagi pembangunan suatu bangsa.

Sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan Tinggi (SN Dikti) dan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) (Tim Pengembangan  Kurikulum Pendidikan Tinggi Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan, 2014: 14-34) tujuan pembelajaran bagi orang dewasa di perguruan tinggi disebut sebagai capaian pembelajaran. Capaian pembelajaran meliputi aspek: sikap, keterampilan umum, keterampilan khusus, dan pengetahuan. Rumusan capaian pembelajaran lulusan pada aspek sikap dan keterampilan umum mengacu pada SN Dikti dan program studi dapat menambahkannya untuk memberi ciri khusus perguruan tingginya. Rumusan capaian pembelajaran pada aspek keterampilan khusus dan pengetahuan mengacu pada unsur kemampuan kerja KKNI yang dirumuskan oleh forum program studi sejenis.

C. Penutup

1. Rangkuman  

Secara hukum mahasiswa diposisikan sebagai insan dewasa yang memiliki kesadaran sendiri dalam mengembangkan potensi diri di perguruan tinggi untuk menjadi intelektual, ilmuwan, praktisi, dan/atau profesional.

Secara historis istilah membelajarkan orang dewasa (andragogi) merupakan istilah dalam teori filsafat pendidikan. Sejak tahun 1833 Alexander Kapp menggunakan istilah andragogi sebagai gambaran ide Plato bahwa orang dewasa terus belajar di masa dewasa. Pembelajaran orang dewasa mulai diorganisasikan secara sistematis pada tahun 1921 oleh Eugene Rosenstock. Andragogi sebagai teori dan praktik pembelajaran orang dewasa dikembangkan oleh Malcolm Knowles (1913-1997).

Secara sosial, seseorang disebut dewasa apabila ia telah melakukan peran-peran sosial yang biasanya dibebankan kepada orang dewasa. Secara psikologis, seseorang dikatakan dewasa apabila mampu mengarahkan diri sendiri, tidak terikat pada orang lain, dapat bertanggung jawab terhadap segala tindakannya, mandiri, dan dapat mengambil keputusan sendiri.

Pengertian pembelajaran orang dewasa adalah suatu model asumsi tentang proses pembelajaran yang diorganisasikan isinya, tingkatannya, dan metodenya secara formal maupun non formal untuk memenuhi kebutuhan melengkapi pembelajaran di sekolah dalam rangka meningkatkan kemampuan, memperkaya pengetahuan, meningkatkan keterampilan dan membawa perubahan sikap seseorang sehingga dapat mengembangkan pribadinya dan meningkatkan kemampuannya untuk berpartisipasi aktif dalam pembangunan ekonomi, sosial, dan budaya yang terus berkembang.

Tujuan pembelajaran orang dewasa adalah mendorong perkembangan aspek sikap, keterampilan, dan pengetahuan agar perguruan tinggi mampu berkontribusi bagi pembangunan bangsa. Khususnya di perguruan tinggi dirumuskan sebagai capaian pembelajaran yang meliputi aspek sikap, keterampilan umum, keterampilan khusus, dan pengetahuan dalam rangka pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) yang bermutu.

2. Evaluasi

  1. Jelaskan latar belakang pembelajaran orang dewasa ditinjau dari aspek hukum, historis, dan sosio-psikologis.
  2. Menurut pendapat Anda apa makna dari pembelajaran orang dewasa?
  3. Identifikasikan tujuan pembelajaran orang dewasa.

3. Tindak Lanjut

Sebagai kelanjutan dari materi Bab I ini disarankan kepada Anda untuk melakukan analisis terhadap pengelolaan pembelajaran pada mata kuliah yang diampu peserta: apakah sudah sesuai dengan hakikat dan tujuan pembelajaran bagi mahasiswa sebagai orang dewasa. 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *